Surga dunia di pusat rohani

Seorang rekan non-muslim pada pertemuan pertama selepas haji berkata ‘Saya lihat di teve, sekarang ibadah haji sudah mulai tergerus konsumerisme dan materialistik ya? Terlihat di sebelah mesjid megah di Medina dan Mekah banyak muncul toko ya’. Saya berusaha menjawab sebisa mungkin. Namun di hati saya tersenyum, karena jadi teringat dua istilah terbaru dan cocok menggambarkan hal itu: Haji Mall dan Thawafko – thawaf di toko.

Memang itulah gambaran kontradiktif nyata termutakhir.

 

Coba kita lihat Madinah. Persis di sekeliling Masjid Nabawi, kita temukan hotel-hotel berbintang dan pusat perbelanjaan. Kita juga dengan gampang menemui deretan toko-toko, mulai dari toko cendera mata – macam sejadah, keperluan sembahyang, parfum, buku sampai dengan toko emas. Selain itu tentu saja pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam barang, dari Al Quran, minyak ‘sinyongnyong’, kerudung, daster (hmmm…, surga buat ibu-ibu tuh)sampai segala macam kopiah made in cina dan tetek bengek cendera mata berharga ‘Tiga lima real’ yang diucapkan dengan fasih oleh pedagang imigran Arab itu. Lokasi sentra perdagangan itu sangat dekat karena persis bersebelan dengan pelataran masjid yang elegan dan indah itu.

 

Garis-garis putih adalah penanda saf untuk solat berjamaah
Zamzam hotel, di bawahnya ada zamzam mall

Coba juga kita lihat di Mekah. Langsung terlihat dari dalam Masjidil Haram, pencakar langit menjulang dengan jam indahnya yang angkuh mengawasi jamaah. Hotel Zamzam. Persis di bawah hotel itu, terpampanglah outlet-outlet keren dengan segala macam dagangan yang indah-indah dan berkelas. Itulah Zamzam Mall. Mall ini persis berhadapan dengan Pintu 1 Masjidil Haram: Babul Abdul Azis. Dan realitas berkata, bahkan jika pelataran masjid sudah penuh, jamaah banyak yang bersolat jamaah di dalam mall – dan bahkan lantai mall pun diatur sehingga jelas tanda baris / shaf. Jadi boleh diterka, boleh jadi dan jika mau, sehabis salam kiri-kanan dan sedikit zikir, kita bisa langsung shopping. Itu tentang mall. Padahal toko-toko seperti yang ditemui di Madinah pun, akan dengan gampang kita temui di Mekah ini.

Dari sini saya bisa jawab ‘Ya’ atas pertanyaan rekan non-muslim itu. Memang, kentara jika konsumerisme dan materialisme sudah mengepung kesucian dua mesjid terindah bagiku. Tidak hanya terlihat dari lokasi, tapi terlihat juga dari jam pelayanan konsumen. Saya sampai bergurau bahwa di dunia ini pasti hanya di Madinah saja saya temukan deretan toko emas yang buka sehabis solat subuh. Solat subuh, man. Itu sekitar jam setengah enam pagi. Bayangkan. Dan …. ada pembelinya lagi (dan ‘kebetulan’ pembeli utamanya adalah jamaah Indonesia). Dan jam buka itu kemudian juga disesuaikan dengan jam shalat, sehingga pada saat jamaah pulang seusai shalat fardhu, mereka bisa shopping.

Entahlah jika materialisme-konsumerisme ini bisa dikategorikan sebagai ‘setan berbentuk bukan setan’, yang hadir di tanah haram untuk menggoda dan menguji keimanan para jamaah. Yang pasti, banyak sekali jamaah yang terjerembab di sisi ini, dengan kenyataan ditemukannya banyak jamaah yang memborong emas (bahkan selintas ada yang memborong satu kilo kalung, atau menghabiskan jutaan rupiah di satu toko), atau mengeluarkan ribuan real untuk sepotong permadani kecil indah bertaburan batu mulia, atau memborong karpet-karpet halus yang motifnya tidak ditemukan di Jakarta. Dan bagi jamaah, sepertinya mereka mendapatkan kemudahan untuk mengeluarkan real-dolar-rupiahnya, karena mungkin itulah cobaannya. Tidak salah jika dari awal Pak Ustadz selalu menekankan ‘bersihkan hati, jagalah dan luruskan niat, tanamkan niat berhaji untuk beribadah dan mencari ampunan Allah’. Karena bisa jadi jika niat untuk membeli emasnya lebih besar dari niatnya beribadah, Allah lancarkan urusan membeli emasnya. Boleh jadi juga jika niatnya mencari motif karpet yang tidak ada di Indonesia lebih menggebu, Allah munculkan motif-motif indah di hadapannya dan Allah lancarkan dan mudahkan jamaah membelinya. (Mudah-mudahan niat beribadah kebanyakan jamaah haji kita jauh lebih besar dari semuanya itu).

Andaikan saya boleh berharap. Alangkah indah kiranya satu atau dua kilometer radius dari pelataran terluar masjid itu dibebaskan dari segala bentuk bangunan, dan hanya diisi dengan taman, peataran, landscape dengan segala macam benda vertikal seperti pohon tidak lebih dari sekian meter. Alangkah indah jika dibuat kolam air mancur sederhana di sana sini, atau perbanyak payung-payung indah semisal di mesjid Nabawi. Dan biarkan bangunan tinggi memiliki jarak yang cukup jauh dengan mesjid, sehingga keagungan mesjid dan spiritualitasnya tetap memancar. Ya, sesuatu macam Taj Mahal.

Tapi, serahkanlah kepada pemerintah Saudi, karena bukankahl mereka disebut juga Khadimul Haramain – pelayan dua tanah haram, dan mereka pastinya mempunyai berbagai pertimbangan matang dari berbagai ahli.

Cag, 9 Desember 2010

Sekonyong-konyong terngiang juga penjaga toko di luar Masjid Nabawi menawarkan barangnya: ‘Haji…haji, Hajar Jahanam. Hebat’, sambil mengangkat jempolnya. Saya pun hanya tersenyum penuh pengertian 😉



Iklan

Journey of MY soul

Haji dan hajjah, inilah sebuah cerita perjalanan jiwa – journey of the soul, journey of MY soul. Saya bukan Sang Pencerita, jadi silakan masukkan tissue dan saputangan anda. Insya Allah tidak ada air mata.

Aku – calon jamaah haji pemegang segala nomor cantik. Nomor urutku sudah cantik: 212. Nomor telepon Arabku sangat indah: 547 537 857. Aku pun ditakdirkan menjadi ketua regu LIMA belas, yang menjadi bagian dari bus LIMA.

Ka’bah waktu terik



Sahabat.

Sebuah ledakan sangat keras terdengar dari arah yang tidak saya harapkan – arah pesawat. Ledakan seperti suara bom, namun tidak membuat panik. Ledakan yang sekonyong-konyong membuat saya dan rekan satu regu berhasil memecahkan es kebekuan komunikasi. Karena tiba-tiba semua orang saat itu mempunyai keahlian yang sama, menjadi seorang ahli spesialis …. TAMBAL BAN.

Itulah ledakan dari ban pesawat yang akan kita naiki, yang telah dengan sukses membuka acara perjalanan dengan sebuah keterlambatan. Keterlambatan yang untungnya tidak digerutui, karena masih segar di ingatan amanat di acara pelepasan untuk siap-siap bersabar dalam perjalanan ruhani ini. Itulah juga saat Ketua Rombongan memperlihatkan kepemimpinannya dengan langsung menggotong box berisi kue-penganan pengganjal perut. Itulah awal saat jiwa-jiwa yang mengharapkan penyucian, memperlihatkan watak aslinya: berebutan atau antri dalam mengambil minum. Itulah juga saat kutemukan beberapa hati malaikat muncul di antara mereka, yang berbaik hati berbagi makanan pribadi bekalnya sendiri, dari mulai jus, air minum, roti, permen bahkan kuaci.

Lalu, tibalah saatnya membuktikan lagu berjudul ‘I believe I can fly’. Saudi Airlines, burung besi yang membawa kita terbang, terlihat begitu …. Eksotis. Ya, eksotis bukan dari fisik pelayan-nya – astaghfirullah. Namun eksotis dengan goyangannya – karena saya penghuni kursi paling belakang. Eksotis juga karena saya merasa berada di diskotik, dengan kerlap-kerlip lampu baca yang rusak tidak terkontrol. Dan eksotis karena … HOT you know, panas. Namun Allah sudah memudahkan perjalananku. Sembilan jam perjalanan Jakarta-Madinah terasa bak perjalanan Jakarta-Bandung lewat Puncak dulu, naik bis dari Kampung Rambutan, tersadar di Padalarang.

Lalu, dimulailah episode suci itu.

Madinah. Kunikmati lima hari terindah di tanah suci. Kureguk nikmat rohani di Mesjid Nabawi. Shalat tahajud, berdoa di Raudhah dan mengaji. Dan …. berdekatan dengan Sang Nabi.

Ya Ilahi Rabbi, alangkah nikmat rejeki yang kau karuniakan kepada kami.

Kudengar langsung lantun adzan syahdu penyentuh kalbu. Allahu akbar, Allahu akbar … dengan oktaf terus meninggi. Kubermakmum kepada imam yang tilawahnya kudengar selalu – dulu, diselingi ulangan takbir sang muadzin terutama: ‘rabbana wa lakal hamdu’. Kushalat berdampingan dengan makam Rasulullah – kekasihMu.

Kujelajahi relung-relung mesjid terindah itu. Babussalam – yang kusangka Raudhah. Raudhah itu sendiri – yang menjadi tujuanku beberapa kali. Saf di bangunan asli ataupun bangunan tambahan. Di atap bernaungkan gelapnya malam. Bahkan di saf pertama di pelataran, dengan teduhnya payung-tenda bak alien jika sedang kuncup. Indah di segala sisi. Indah di segala sudut.

Itulah episode tatkala air mataku tumpah berurai, saat hatiku begitu lembut tersentuh, saat jiwa rapuhku begitu damai … damai …, serta saat pikiranku begitu tertuju – fokus.

Kenyataan ternyata bisa menyingkirkan keegoanku dan melepaskan keakuanku saat itu. Ternyata dunia bukan untukku sendiri. Bukan hanya diriku yang berpentas di dunia ini, karena kusaksikan dan kunikmati keberagaman di sekelilingku. Berbagai ras, benua dan negara. Berbagai sifat, karakter dan bahasa. Berbagai etnis, profesi dan tradisi.

Bhineka Tunggal Ika. Bhineka dalam ciptaanMu. Tunggal dalam tujuannya: Labbaik Allahumma Labaik.

Kenikmatan yang kureguk sangat lengkap. Kenikmatan rohani ini juga ternyata dilengkapi dengan kenikmatan duniawi. Hotel nyaman, sepelemparan batu dari tujuan. Makanan nikmat, menu lengkap. Belanja gampang hingga riyal terbuang. Bahkan ritual selebriti pun – macam berkunjung ke Jabal magnetic dan sentra karpet pun terpenuhi.

Sahabat,

Kutinggalkan lima hari terindah itu dengan hanya dua potong kain menempel di badan, sesuai tuntunan. Dua potong saja. Tanpa kemeja, tanpa celana. Bahkan yang membikin ku risi dan kagok, seperti dialami bapak-bapak lainnya, dalamanpun tidak boleh kupakai. Dan kulalui perjalanan antara dua tanah suci tanpa celana dalam, dan kudatang persis seperti bayi yang hanya memakai popok. Polos. Suci. Insya Allah.

Kutiba dini hari di Makkah al Mukaramah. Masjidil Haram terlihat elegan. Ka’bah terasa agung. Namun saya sedikit terganggu dengan keberadaan Tower Zamzam dan jam indahnya yang sepertinya angkuh berdiri mengawasi, dengan mall nya yang duniawi yang hanya selompatan dari pintu Abdul Aziz, pintu masuk ke pusat rohani.

Lalu, dimulailah ritual ibadah pendahuluan penuh tantangan: umroh. Thawaf dengan pengerahan tenaga, kesabaran, keikhlasan dan juga kedermawanan memberikan jalan bagi yang memotong arus, serta kelembutan dan empati terhadap yang lemah. Sai juga adalah aktifitas pengerahan fisik, berjalan sekitar 3 kiloan, dengan lari-lari kecil di antaranya. Di Maqam Ibrahim saya dapati tangisan pertama diri di Mekah atas dosa dan noda masa lalu. Dan kututup dengan tahalul sepuluh rial dengan mesin cukur nomor dua, agar tersisa rambutku untuk tahalul haji.

Hari-hari selanjutnya penantian ritual haji, saya isi dengan bolak-balik ke Masjidil Haram, solat fardhu berjamaah, I’tikaf, baca Qur’an, thawaf sunnat dan berdzikir. Namun sahabat, tidak kutemukan suasana ruhani seperti di Masjid Nabawi, yang khusuk, syahdu dan menembus kalbu. Di Masjidil Haram, keromantisan ruhani terkalahkan oleh kerasnya usaha dan besarnya upaya saya hanya untuk mendapatkan tempat bersujud di dalam masjid. Padatnya Masjidil Haram, seiring mendekatnya waktu berhaji, ditambah dengan ibadah yang bercampur antara laki-laki wanita, membuat kondisi hiruk pikuk. Waktuku untuk menangis akan dosa tergantikan kebingungan mencari tempat yang sedikit longgar untuk kududuki, terkalahkan hingar bingar perdebatan orang terhadap safnya yang diduduki atau terbenam dalam teriakan-teriakan askar pengaman dan pengatur yang sibuk menyingkirkan jamaah perempuan dari saf depan. Jangankan menangis Pak Ustadz, kesyahduan berhadapan dengan Ka’bah yang agung pun bahkan harus kucari dalam-dalam.

Satu dua jam sebelum adzan, saya harus sudah berangkat. Kurang dari itu, silakan nikmati padatnya pelataran. Lebih kurang dari itu, pelataran pun tak kudapat, terpaksa kubersolat di lantai dasar Mall, yang selesai salam bisa langsung bershopping jika mau. Bukankah kalau keseringan, diikuti seringnya berthawaf di toko aku bisa menjadi Haji Mall?

Namun saya nikmati ibadah ini saudaraku, seperti halnya kunikmati perjalanan persiapan haji di hari Tarwiyah. Kepindahanku dari hotel nyaman ke apartemen biasa di pesisian, Alhamdulillah tidak menggangguku. Aku bukan complainer, aku lebih suka menyimpan tanya dalam hati karena kuberusaha mencoba ikhlas dalam segala hal. Namun aku juga masih manusia biasa, sehingga tanya itu tetap mengemuka: ‘kenapa satu ruangan berukuran dua kali ruangan lain – seperti ruanganku ini, kok sama-sama dihuni lima orang? Why?’.

Percayalah Pak Ustaz Firman, saya ingin komplain mengenai hal itu, tapi saya kan sudah berjanji ingin berusaha ikhlas. Dan saya bukan komplainer. Jadi saya terima hal itu, apalagi setelah saya mendapatkan anugerah empat orang rekan sekamar – saudara baruku – yang cerdas, bernurani dan santun sehingga saya sama sekali lupa tentang komplain itu karena mendapatkan percakapan, diskusi dan gurauan yang berisi, mengalir dan intelek. (Semoga persaudaraan kita terus berjalan H Amir, H Soleh, H Ari, H Ruby).

Sehari di lokasi apartemen Tarwiyah, setidaknya mulai memperkenalkanku terhadap saudaraku jemaah lainnya. Sebuah nikmat Ilahi bagiku karena aku bisa dengan santai memperhatikan sikap-perilaku-polah dan kepribadian mereka sebagai individu atau berkelompok. Kebanyakan dari mereka berperilaku santun, memperlihatkan tujuannya untuk ibadah, mempergunakan waktunya untuk berdoa dan berdzikir, dan bercakap-diskusi dengan rekan jamaah atau bahkan dengan ustadz. Ada juga yang hatinya mudah tersentuh dengan tangisannya yang terdengar bahkan dari ujung saf. Namun, ada juga mereka-mereka complainers yang dengan gampang mengkomplain apapun itu. Atau mereka yang berkelompok dalam ahli hisap – yang berusaha keras menghentikan kebiasaan merokoknya dengan minum kopi atau bersenda gurau. Ada juga beberapa yang tergolong pelor – nempel molor – yang hanya karena angin sepoi-sepoi atau karena buaian suara ustadz saat ceramah, langsung terbang ke alam mimpi. Bahkan jika perlu diiringi dengkur yang mengalahkan suara sang ustadz.

Manusia begitu berwarna, karena aku temukan juga mereka yang berjiwa petualang, yang muda dan penasaran, sampai berkelana ke Jabal Nur atau ke Jabal Tsur. Gua Hira tak ketinggalan. Namun ada juga dia yang ‘berpetualang’ dan hilang, sampai diketemukan muthawif, empat kilometer dari lokasi.

Di belahan sana, terlihat juga sekelompok jamaah yang berperilaku seperti selebriti atau menunjukan ‘lu tau siapa gua?’. Atau keperhatikan juga mereka yang tergolong Miss Jinjing, yang berkonsentrasi dalam melontar rial dalam berbelanja dengan selintasan kata ‘beli aja karpet itu, gak ada model karpet seperti itu di Indonesia loh. Aku sudah cari-cari kok di Jakarta’. Namun sebagai kontradiksinya, aku temukan juga sekelompok jemaah yang begitu tenang, rapi dan tidak silau dengan segala hal berbau kemodernan – bahkan tidak peduli mengenai pengambilan foto di momen-momen bagus. Mereka sangat tertib, bahkan kelompok ini seakan menampar kelompok lainnya dalam ketertiban dan keikhlasan.

Mudah-mudahan saya bisa mengambil hikmah dari kenikmatan memperhatikan segala tingkah polah itu.

Lalu dimulailah perjalanan haji dengan kain dua lembar itu. Kali ini, aku sengsara tidak bercelana dalam lebih lama lagi, selama hampir tiga hari. Tiga hari pula aku tidak berganti kain. Tiga hari pula aku tidak mandi bersabun. Namun, itulah tuntunannya. Sami’na wa atho’na.

Perjalanan pertama adalah bermalam di Mina. Mina, tempat yang biasa saja, tidak lebih terkenal dari Arafah. Namun ini Mina yang ditasbihkan Pak Ustadz dengan ungkapan: Ini Mina Bung!!

Mina dalam sehari semalam belum menunjukkan dirinya. Belum semua jemaah mengisi tendanya, hanyalah mereka yang bertarwiyah seperti kami. Kami masih memiliki keleluasaan mengantri, baik itu untuk mengisi perut atau untuk mengurasnya. Namun mulai juga kurasakan ketidaknyamanan di bawah tenda, bersama ratusan orang, dengan pendingin udara bermasalah, dan beberapa orang tidur bersuara.

Esoknya kupersiapkan diri di puncak haji. Arafah. Wukuf. Setengah penggalan hari saja. Ba’da Dzuhur sampai Maghrib. Kurang dari enam jam. Tanpa wukuf, bukan haji namanya. Waktu mahal, waktu istimewa, waktu makbul namun bisa saja diabaikan begitu saja. Tidak ada yang dikerjakan di sini selain …. berdoa, berdzikir, mengakui dosa, taubat nasuha, berdzikir lagi, berdo’a lagi dan …. menangis.

Saudaraku,

Waktu mahal itu telah kubeli. Dan kumanfaatkan dengan efektif karena efektifnya bimbingan ibadah para ustadz yang terus menerus mendampingi kami di miniatur Padang Mahsyar itu, dengan do’a, dzikir dan pengajian, tanpa memberi peluang waktu kosong tempat syetan mengumbar perangkap dalam bentuk ngantuk, tidur, merokok dan ngobrol. Terima kasih para ustadz yang telah membantuku mengatur dan memanfaatkan waktu yang kubeli sangat singkat dan mahal ini.

Aku menangis di sana saudaraku. Terbayang di pelupuk mata dosa dan maksiat yang kubuat selama ini. Dosa pada istriku, anakku, saudaraku, teman-temanku. Dosa pada bapakku. Dosa pada ibuku. Dan dosa pada diriku. Juga dosa padaNya. Aku menangis. Malu. Dan air mataku juga tumpah di pundak jamaah-jamaah lain, seperti halnya jamaah lain pun berurai air mata di pundakkku pada akhir wukuf. Syahdu.

Lalu, kutinggalkan kesyahduan dan kuberiring pergi ke Muzdalifah mengumpulkan kerikil dan rebah bermalam. Semalam. Bukan satu dua jam. Semalam, sesuai sunnah. Bersama ratusan ribu jamaah yang menghuni jengkal demi jengkal Muzdalifah. Ketika di Arafah yang luas, tak kusaksikan lautan manusia karena terhalang tenda, namun tidak di Muzdalifah ini. Sejauh mata bisa memandang, hanya warna tanah malam terhalang putih dan putih dan putih yang menutupi. Putih kain ihram. Putih jutaan manusia. Indah. Agung. Massal.

Kusempatkan tahajud di tanah lapang beratap langit. Kuberbaring menanti pelupuk mataku menutup. Kubaca Qur’an mengiringi subuh tiba. Dan kami baca Al Ma’tsurat sambil menanti bis jemputan ke Mina.

Tatkala matahari berada di sepenggalah, saat itulah kami tiba di Mina. Mina yang sesungguhnya dari ungkapan ‘Ini Mina Bung!!!’. Mina yang sudah bersiap menggoda dan menguji manusia dengan segala hal wajar, manusiawi tapi begitu membahayakan karena menyangkut ujian keimanan, kesabaran, keikhlasan, tempat manusia mendapatkan cermin tingkah lakunya masing-masing. Empat hari ku di Mina. Empat hari pula kuberjuang. Dan empat hari adalah waktu yang panjang.

Hari pertama, sedatangnya dari Muzdalifah, kuikuti arahanmu Pak Ustadz. Langsung kita bersama menjalankan melontar satu jumrah saja: Aqabah. Inilah kali pertama kuberjumrah. Inilah saatnya kumengenal terowongan Mina: Muaisim. Inilah saat kusadari beratnya melempar jumrah: berjalan cukup jauh dan suasana padat. Terbayang padatnya suasana jika sekian juta jamaah haji dalam satu hari ini harus melontar satu buah jumrah. Bayangan yang membuat ku khawatir.

Namun Allah tenyata memberi kelancaran dan kelapangan bagi kita. Sekonyong-konyong petugas membuka jalan untuk melontar di lantai tiga. Aku pikir ini adalah hasil negosiasimu, Pak Ustadz. Namun kau bilang kau tidak bernegosiasi. Kau tidak lakukan apa-apa. Kau hanya mengangkat tangan dan mendoakan orang tua petugas jaga itu dengan doa tulus dan baik-baik. Berdoa untuk ibunya, persis di depannya. Kau berhasil luluhkan hatinya dengan doa. Masya Allah. Begitu sejuk.

Jumrah pertama begitu lancar, serasa seluruh jamarat adalah milik kita. Terbayang usaha keras yang harus dilakukan jemaah dulu, sewaktu melontar harus dilakukan hanya pada satu lantai, dan tugunya pun masih seperti miniatur tugu pahlawan. Sepanjang perjalanan pulang dengan suasana berdesakan, terbayang pula kejadian terowongan Mina dahulu, dimana ratusan orang meregang nyawa berdesakan, berdempetan di dalam terowongan yang tidak dipisah pergi dan pulang.

Jumrah hari kedua – dengan tiga lemparan: Ula, Wutsa dan Aqabah pun berjalan sama lancarnya di lantai tiga. Hari ketiga dan keempat pun demikian, meski kita melakukannya di lantai dasar. Subhanallah. Allah memberikan kita kelancaran.

Di hari pertama di Mina itulah aku tutup aktivitasku dengan bercukur. Kuputuskan menggundulkan kepalaku penuh, plontos, seperti halnya bayi selesai Aqiqah, seperti halnya kepala Cuplis di sandiwara si Unyil atau seperti halnya Upin – atau Ipin. Tahalul adalah simbol mengorbankan harta yang paling berharga dan membanggakan: rambut. Namun, tahalul bagiku mungkin tidak terlalu berat, berhubung kepalaku memang sudah terbiasa berambut tipis. Sehingga aku begitu hormat dan bangga dengan adiku jemaah lain, yang muda, good looking dengan rambut mohawk kerennya, yang rapi bergel, ternyata berani memotong habis rabutnya dan gundul persis mahasiswa baru dipelonco (itu kamu, H Redy).

Empat hari di Mina, aktifitas utama kita memang melempar jumrah dengan 70 butir kerikil. Di luar itu, kita hanya tinggal di tenda, berdiam diri atau berdzikir. Dan ternyata, di situlah letaknya cobaan dan ujian Mina terberat. Karakteristik dasar kita akan serta merta terlihat di sini. Watak dasar kita sekonyong-konyong nongol. Kadar kesabaran, keikhlasan, kesantunan, kesalehan dan keimanan kita betul-betul muncul.

Antrian makan di Mina
Suasana di bawah tenda di Mina



Edisi ‘Ini Mina Bung!!!’ dimulai. Ucapan harus dijaga, hati harus bersih. Bagaimana kita menyikapi antrian ke toilet pada saat kebelet, padahal masih ada lima orang mengantri di depan kita? Apakah emosi kita terkendali selagi lapar, mengantri dua puluh orang, tiba di depan kantin, tersisa hanya nasi tanpa lauk. Atau, jikapun nasi dan lauk lengkap, tidak tahunya ada orang menyerobot persis di depan hidung kita. Atau, jikapun tidak ada yang menyerobot, si petugas kantin – yang masih anak-anak, hanya memberi ikan sangat sedikit ‘seiprit’. Atau jika itupun tidak terjadi, nasi dan laukpun utuh tidak tersentuh, karena masakan itu kurang satu hal: ‘rasa’, bahkan asin pun tak ada.

Kembali ke tenda, pendingin udara tidak bekerja normal meski berkali-kali diperbaiki. Tidur berdempetan dengan jemaah, miring kiri hampir mencium wajah tetangga yang brewok, miring ke kanan kena tangan tetangga yang bebas terlentang. Bahkan berbaring tegap memandang ke atas sambil menghitung kambing pun tidak sukses, karena kambingnya kabur mendengar dengkur lebih kencang dari burung tekukur.

Hari ketiga, masalah dan penerimaan pribadi campur aduk, ketakbiasaan mensiasati problema mengemuka seiring tidak adanya perubahan kenyamanan suasana: AC tidak dingin dan makan harus ngantri. Uneg-uneg yang sudah berada di kerongkongan akhirnya jebol dalam bentuk protes, dan terkristallah itu dalam dua kubu, nafar awal dan nafar tsani. Kami-kami yang hanya manut dengan program Maghfirah pun akhirnya harus memilih, karena inilah demokrasi: ‘tidak tercapai kemufakatan? Voting!’.

Kutidak menganggap hal itu sebagai sebuah batu sandungan. Sama sekali tidak. Itulah romantika kehidupan, meski ternyata dengan terkaget-kaget kusadari bahwa voting pun tidak berarti. Namun, aku kan ingin beribadah. Akhirnya, kudapati aku menyelesaikan lontaran batu ke tujuh puluh, pada saat kupahami sebuah inti: Baiah Aqabah dan bersama mengucapkan Janji pribadi sebagai seorang haji. Dan usailah episode Mina yang penuh warna.

Saudaraku, sekembalinya ke apartemen, kudapati kenikmatan makan yang luar biasa. Makanan dari penyedia yang sama yang disajikan sejak di Mekah – yang saking terbiasanya bahkan mencium bau tempat makannya pun dari jarak sepuluh meteran sudah membuat mual, saat itu terasa aduhai nikmatnya. Nikmat karena ada ‘rasa’ yang tidak kudapatkan di kantin maktab Mina. Makin kusadari jika nikmat makan bukan dari ‘apa’ yang dimakanan, tapi dari ‘rasa’ semua indera – termasuk hati dan persepsi.

Masih tersisa dua hari aku berdiam di apartemen. Tersisa tiga ibadah yang harus kulakukan: thawaf ifadah diikuti sai, dan thawaf wada.

Thawaf ifadah ternyata berat, saudaraku. Lebih berat dari thawaf-thawaf yang sudah kujalani. Mungkin karena kuharus berkeliling berbarengan waktunya dengan ratusan ribu orang yang juga berthawaf ifadhah. Berdesakan dan pengap sudah pasti. Namun kubersyukur bisa menjalaninya dengan lancar, dengan kelompok yang utuh. Namun, saking penuhnya, bahkan kutakdapat secuil pun tempat untuk bersolat atau berdoa di Maqam Ibrahim. Bahkan inilah pertama kalinya kuterpisah dengan istriku karena lepas genggaman tangan. Namun kutemukan dia kembali sebelum kubersa’i.

Aku bersa’i kembali melakukannya di lantai satu. Kucoba resapi perjalanan sofa marwah terakhir ini di tengah kehirukpikukan mesjidil haram. Dan kuselesaikan tujuh perjalanan dan kututup dengan linangan air mata. Air mata bahagia dan syukur. Lega karena akhirnya telah kuselesaikan semua rukun dan wajib haji, dan lengkaplah hajiku. Lengkap dari segi syar’i, namun tentunya harus dibuktikan kelengkapannya dengan kemabruran sejati. Kupeluk istriku. Kupeluk saudaraku, jamaah lainnya. Kami semua menangis, saudarku. Perjalanan haji kami sampai selesainya seluruh proses ritual rukun dan wajib haji telah Dia lancarkan. Alhamdulillah Rabbi.

Dan hari terakhir di Mekah, aku merasa syahdu. Sesuai anjuranmu Ustadz, kuberthawaf wada berdua istriku. Kunikmati mengawali thawaf dengan ber’Bismillahi Allahu Akbar’ dari sudut Hajarul Aswad. Kuimami bertakbir, berdzikir dan kubaca juga do’a dari buku tuntunan, dan istriku menimpali. Indah saudaraku. Indah. Di putaran terakhir, tatkala kuberdoa untuk diriku, rumah tanggaku, istriku, anakku, ibuku, ayahku dan saudaraku, tak terasa aku menangis lagi. Apalagi kutahu ini thawaf terakhir yang boleh jadi tidak ada thawaf lagi sepanjang hidupku. Boleh jadi tak ada kesempatan lagi bagiku mengunjungi rumahNya. Boleh jadi aku keburu memenuhi panggilan ketigaNya: mati. Biarkanlah thawaf perpisahan itu menjadi thawaf terindah. Biarkanlah doa di Maqam Ibrahim setelah itu menjadi doa paling syahdu. Namun kuyakin, Allah tahu yang terbaik bagi ummatNya.

Itulah ibadah penutupku, karena kemudian tinggal perjalanan pulang bertemu keluarga melewati Jedah. Jedah yang ternyata meninggalkan cerita bagiku. Bukan. Bukan tentang Al-Balad yang kurasakan seperti di Pasar Baru atau bahkan di Tasikmalaya – dengan pelayan berbahasa Indonesia dan disambut Wilujeng Sumping. Tapi terjadi suatu peristiwa, yang kujuluki: ‘Tragedi bin-Dawood, Tepuk Tangan Bis Lima’.

Itulah selintas perjalanan rohaniku – Journey of my soul – bersama dengan Al-Maghfirah.

Seperti yang kuceritakan di Jedah, rambut boleh sama hitam – itu dulu, sebelum tahalul. Kepala boleh sama gundulnya – itu sekarang. Namun seribu kepala seribu pendapat. Seribu pendapat seribu kesan, dan tidaklah elok menyeragamkan sebuah kesan. Biarkanlah itu menjadi privilege masing-masing pribadi. Namun, ijinkanlah aku memberikan kesan pribadiku terhadap perjalanan ini, yang boleh jadi tidak mewakili jamaah lainnya.

Pak Ustadz,

Sejak pertama kali daftar ONH plus, saya punya tanya: ONH plus? Plus dalam apanya? Kan bisa tiga plus. Plus fasilitasnya. Plus waktunya (maksudnya cepat). Atau plus bimbingan ibadahnya. Memang saya mengharapkan plus ketiganya ketika saya bergabung dengan Maghfirah. Namun itu terlalu ideal kan? Dan saya bergabung dengan Maghfirah atas dasar referensi ustadz di kompleks saya, dengan catatan Maghfirah unggul dalam hal bimbingan ibadahnya. Dan itulah yang aku cari Pak Ustadz, karena aku orang yang butuh bimbingan.

Karenanya saya sambut seruan Pak Ustadz dari pertama kali berangkat untuk membersihkan hati dan meluruskan niat. Niatku saat itu insya Allah adalah untuk ibadah. Karenanya, saya sangat berterima kasih dengan bimbingan para ustadz di Maghfirah, karena saya rasakan sekali bimbingannya. Saya harus akui, sekali lagi ini kesan pribadi, bahwa saya harus acungi jempol atas bimbingannya. Bimbingan, mulai dari awal manasik, hari-hari di Madinah, Mekah, Arafah dan Mina. Tiada hari tanpa siraman rohani para ustadz. Dan saya angkat topi dengan kualitas ustadz yang membimbing kami, semua mumpuni.

Saya pun melihat sebuah sinergi yang sangat indah di antara para ustadz, yang tanpa banyak bicara memperlihatkan koordinasi dan pembagian tugas yang jelas. Ustadz Hatta ibarat kepala rombongan, sebagai kepala pasukan pembuka. Ustadz Ratmono ibarat kepala pasukan penutup, ustadz sapu jagat. Ustadz Muin dan Khusairi ibarat pasukan inti. Dan saya sekali lagi angkat topi atas keindahan kebersamaan yang diperlihatkannya, serta keindahan penghormatan akan perbedaan pendapat yang mengemuka, jika ada.

Saya terus terang sangat puas dengan bimbingan ibadahnya Pak Ustadz. Bahkan di Arafah, saya sangat berbangga karena kita bisa memanfaatkan waktu mahal itu dengan efektif. Terima kasih Ustadz Hatta. Ustadz Muin. Ustadz Khusairi dan Ustadz Ratmono. Tidaklah berlebihan jika ustadz di kompleksku merekomendasikan Maghfirah sebagai pembimbing haji yang sangat bagus dari segi ibadah.

Nah, gimana juga dari segi fasilitas. Hmm… Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Hotel Movenpick di Madinah, bagus. Hotel Zamzam di Mekah, bagus meski pelayanannya tidak seperti yang diharapkan. Apartemen di Aziziyah, bolehlah jika lebih direview lagi dan dibandingkan antara besarnya ruangan dengan banyaknya orang. Kemah di Arafah? Gak terlalu signifikan lah, kita cuman 6 jam di sana kok, tapi so far bagus. Kemah di Mina? Memang fasilitas di sini urusan Maktab, jadi mungkin tidak terlalu objektif jika mengkomplainnya kepada Maghfirah. Dan sayapun cukup yakin jika Ustadz Firman dan kawan-kawan memahami apa yang terjadi dan menjadi ketidaknyamanan kami. Mudah-mudahan ke depannya, jika Maghfirah memiliki keleluasaan untuk memilih mothowif maktab, semoga mendapatkan yang lebih profesional.

Dan terakhir di Jeddah, ternyata para Ustadz ‘tahu yang jamaah mau’ dan pintar membuat kejutan. Siapa yang tidak terkejut jika semua pasangan suami-istri, baik itu yang memang awalnya ikut berdua, bertiga atau berempat, mendapatkan masing-masing satu kamar di Ramada Hotel. Ustadz memang memahami biologis manusia. Dan kami semua tersenyum bahagia, dan melirik kepada pasangan masing-masing. Bahkan yang berkhidmat kepada orang tua pun, saat itu sengaja untuk dipisahkan. Dan tahukah Pak Ustadz? Lihatlah wajah-wajah cerah para jamaah keesokan harinya, cerah-ceria-bahagia. Bahkan ada yang sempat berceloteh ‘Ya Pak Ustadz, perpanjang dong nginepnya dua malam lagi kek’.

Saya juga puas dengan pengorganisasian bis sewaktu di Mina, sehingga kami tidak bermacet ria berjam-jam di jalan.

Kesimpulannya Pak Ustadz, bagiku pribadi, saya puas berhaji bersama Maghfirah. Terima kasih sekali atas segala bimbingan dan fasilitasnya. Terima kasih kepada semua ustadz, muthawif dan semua pihak di Maghfirah. Mohon maaf jika kami terlalu rewel, terlalu banyak komplain. Tapi insya Allah, itu untuk kebaikan bersama.

Cag, 1 Desember 2010

Kepadatan pelataran Masjidil Haram

Galeri 1 – Serba serbi

Emang, gue pikirin! Jilid 2

Jedah. Hari terakhir di Saudi. Ritual haji telah diselesaikan lengkap. Thawaf pamitan – Thawaf Wada’ yang menyentuh, pun telah dilakukan. Dan saya telah meninggalkan dua tanah suci, Mekah dan Madinah, dalam persiapan kembali ke Jakarta. Bahkan upacara perpisahan pun sudah dilakukan di pagi harinya, di mana ustadz kembali mengingatkan arti haji mabrur dan indikasi seseorang telah menggapai haji mabrur – memberi manfaat kepada orang lain. Namun ternyata, sayang di sayang. Saya justru melihat pertunjukan antogonis dari seorang jamaah pada perjalanan di hari terakhir itu, kontradiksi dengan arti mabrur.

Kami chek out jam dua siang. Jam sembilan malam kami harus sudah berada di bandara, karena untuk haji, setidaknya harus berada di sana empat jam sebelum keberangkatan. Direncanakan kami akan berjalan berkeliling kota Jedah untuk mengisi waktu sampai mendapat giliran makan malam di restoran Thai jam 8an.

Di tengah perjalanan tersebut, tiba-tiba bis kami berhenti. Bin Dawood. Itulah nama gedung di depan kami berhenti. Itu adalah nama supermarket sekelas carefour di Indonesia. Kemudian seorang jamaah berdiri dan buru-buru mendekati istrinya yang duduk persis di depanku. Jemaah yang “terkenal” itu meminta beberapa lembar uang untuk membeli sesuatu. Saya dan anggota rombongan lainnya sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi, sampai kemudian dia turun sendirian, menuju supermarket tersebut.

Saya saat itu bepikir bahwa dia minta diturunkan untuk membeli beberapa keperluan pribadinya, dan tidak perlu ditunggu, dan dia akan kembali bergabung di restoran dengan memakai taksi. Namun, pikiranku sama sekali meleset. Ternyata, bis kami diminta menunggunya. Tanpa pemberitahuan kepada jamaah lainnya, tanpa ba-bi-bu, kami semua diminta tanpa komentar untuk setia menunggunya.

Saya sampai tidak habis pikir, apakah si “Tuan” ini sama sekali tidak mempunyai empati terhadap anggota rombongan yang lainnya? Apakah dia benar-benar tidak punya nurani, dengan mengabaikan hak-hak orang lain? Apakah dia ingin menunjukan siapa dirinya, yang jika dilihat dari di mana dia tinggal dia sepertinya orang kaya – seseorang berkata kayaaaa banget? Apakah dia ingin menunjukan bahwa “elo sekalian kan kacung, udah tungguin gue”? Yang paling menohokku adalah bukankah dia justru mempertontonkan kebodohannya, karena sama sekali tidak mengambil pelajaran dari haji dan inti dari mabrur – apalagi katanya haji ini adalah haji keduanya?

Jelas sekali kekecewaan para anggota rombongan yang lain, yang mencoba disembunyikan. Ya, disembunyikan, berhubung mereka berusaha menjaga hati. Tapi raut wajah mereka tidak bisa menutupinya. Apalagi ditambah dengan beberapa bisik-bisik sana sini. Bisa terbayang, bagaimana kesalnya jika hak empat puluh empat anggota rombongan diabaikan begitu saja oleh satu orang? Bagaimana tidak menjengkelkan jika dia melakukan hal itu tanpa minta ijin kepada anggota rombongan, atau sekedar basa-basi? Apakah memang dia ingin menunjukan apa yang Pak Ustadz ingatkan sejak awal “elu tahu siapa gue?” Padahal kan selain dia, banyak juga mereka yang mempunyai posisi yang sama atau lebih, kekayaan yang sama atau lebih, dan mereka biasa-biasa saja tuh.

Dan bagi saya, dia sudah tidak ada harganya. Dia sedang memperlihatkan kebodohannya. Sekaya apapun dia, seberkuasa apapun dia, tanpa empati dirinya tidak berarti. Tanpa penghargaan kepada orang lain, dirinya – yang sekaya apapun dan seberkuasa apapun – tidak akan dihargai.

Dan itulah yang terjadi. Di kala hampir tiga puluh menit berlalu dan dia kembali ke bis, jamaah di bis yang sudah menggerutu dan kesal – mungkin beberapa dari mereka bisa saja sudah berdo’a sebagai orang teraniaya – memberikan tepuk tangannya secara massal. Bukan tepuk tangan sanjungan, tapi tepuk tangan cemoohan – itupun jika dia mengerti. Dan sekali lagi sebuah label negative ditempelken dirinya di keningnya: “tak punya empati”. Dan hilanglah sebuah indikasi kemabruran dirinya – dilihat dari kacamata saya pribadi yang awam ini.

Ya Allah, mudah-mudahan Kau bisa berikan penyadaran kepada saudaraku akan hakikat empati dan negatifnya egois. Kuatkan juga kami untuk tetap beristiqamah.

Sahabat.

Kisah ini mungkin bisa dijadikan pelajaran berharga bahwa seseorang yang merasa berada di awang-awang, kaya dan berkuasa, harus tetap memiliki nurani dan empati untuk bisa diterima oleh lingkungan. Haji tidak akan berarti jika seseorang tidak mendapatkan perubahan diri menjadi lebih baik.

Jadi teringat sebuah nyanyian motivasi haji:
Kami pergi berhaji, demi mabrur hakiki
Maghfirah kami cari, dengan tobat sejati
Gigih merubah diri, jadi hamba Ilahi
Allah..Allah, mohon ridhoi kami
Bahagia, sukses, mulia abadi

Cag, 25 November 2010

Ayo! Ayo berhaji. Mumpung masih muda

Dari sejak baligh saya mengerti jika ibadah haji diidentikan dengan ibadah fisik. Bahkan salah satu syarat ibadah haji adalah kemampuan – dalam arti material dan fisik. Dan pada saat saya diberi anugerah melaksanakan rukun Islam ke lima inilah saya memahami sekali arti dari ungkapan ulama ‘berhajilah sewaktu masih muda – jangan ditunda menunggu tua’.

Hari ini, hari ketiga di Mekah al Mukaramah, saya akhirnya ambruk. Persendian sakit. Badan pegal. Mudah sekali masuk angin. Dan yang terburuk adalah penyakit ‘ringan’ yang saya tidak sukai – meriang.

Dipikir secara logika, bisa jadi semuanya adalah hal yang wajar. Badan mungkin mengalami kelelahan fisik yang berat. Bagaimana tidak? Perjalanan bis saja dari Madinah ke Mekkah sudah mencapai tujuh jam-an. Perjalanan itu – dengan memakai kain ihram, berhenti di hotel dekat Masjidil Haram. Dan check in ke hotel pun menguras tenaga, karena otomatis sudah berdesakan dengan ribuan jamaah yang tinggal di hotel yang sama.

Setelah masuk kamar, membasuh muka sebentar, kita sempatkan makan malam dulu sebelum meneruskan ritual umrah lainnya – yang juga menguras fisik.

Thawaf. Aktifitas berputar mengelilingi Ka’bah tujuh kali – seperti yang dilakukan Rasulullah mengikuti jejak Nabi Ibrahim sudah kentara sebagai aktifitas fisik. Aktifitas ini tambah terasa karena penuhnya jamaah yang berthawaf – meski sebenarnya jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Dengan tidak mengutamakan mendapatkan sunnah mencium hajarul aswad – yang akan sangat sulit, berdesakan dan penuh perjuangan, saya dan rombongan lebih memilih berjalan di lingkaran terluar. Di lingkaran terluar, kita setidaknya masih bisa menghirup napas, tidak sumpek dan sedikit lebih punya kelapangan dalam mengatur langkah. Namun sesuai dengan hukum matematika, lingkaran dengan diameter lebih jauh akan menghasilkan jarak yang lebih jauh pula. Dan itu kembali memakan ketahanan fisik.

Setelah tujuh putaran, yang terkadang berdesakan ikut terbawa arus, thawaf selesai dan selanjutnya berjalan menuju maqam Ibrahim – yang bukan makam atau kuburan, untuk mengikuti sunnah shalat ba’da thawaf dan berdoa. Berjalan menuju ke Maqam Ibrahim pun tidak gampang, karena terkadang kita harus mengerahkan fisik untuk berjalan melawan arus.

Setelah itu, aktifitas fisik dilanjutkan dengan berjalan dan lari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah, meniru apa yang dilakukan Siti Hajar. Sepenggal jarak dua bukit tersebut berjarak sekitar 400 meter-an, sehingga jika ditotal tujuh kali aktifitas jalan itu memakan jarak hampir tiga kilometer. Sebuah aktifitas yang benar-benar fisik.

Selesailah proses ihram segera setelah saya memotong rambut – bertahalul. Dengan demikian, aktivitas fisik yang dimulai pukul 2 sore, berakhir pukul 3 pagi, sewaktu kami kembali ke hotel untuk membuka pakaian ihram dan bersih-bersih, serta istirahat sejenak.

Namun, tidak begitu lama, aktifitas kembali dilanjutkan berulang dengan mengikuti solat fardhu berjamaah. Jangan dianggap mengikuti solat fardhu ini gampang, karena demi mendapatkan shaf di dalam masjid, kami harus berangkat satu dua jam sebelum adzan. Berangkat dari penginapan kurang dari satu jam, bisa dipastikan akses ke lantai utama mesjid ditutup dan kita hanya berkesempatan solat di lantai dua, tiga atau pelataran – dan bahkan di lobby hotel merangkap mall.

Lalu apa yang dilakukan sepanjang waktu menunggu? Ya, bukan mengobrol dan bergosip, tapi melakukan kebaikan-kebaikan semacam zikir, berdoa dan baca Qur’an. Namun dua jam bukan saat yang sebentar untuk hanya duduk. Fisik pun jadi diandalkan. Bayangkanlah dua jam duduk di lantai, bersila, dengkul pegal-pegal. Cape kaki kanan di atas kaki kiri, kemudian posisi ditukar. Atau kedua kaki diluruskan. Atau sengaja berdoa atau mengaji sambil berdiri agak kaki bisa lurus.

Dan tahukah kita bahwa sesuatu mengintai di kala I’tikaf itu? Ya, itulah masuk angin. Selain karena Masjidil Haram masih memakai kipas angin di atas kepala, juga karena angin berhembus cukup kencang jika kita berada di lantai dua dan atap. Angin akan begitu sangat mudah masuk ke badan kita jika badan kita tidak fit kan, termasuk kecapekan.

Hal ini diperparah dengan ketidakpedulian otak dan pikiran terhadap badan. Maksudnya, otak, pikiran dan rasa masih bersemangat mencari pahala sunnah, sehingga kita kadang memforsir diri untuk berthawaf sunnah dan bertahajud dilanjutkan I’tikaf dari sejak pukul dua subuh (waktu paling lega untuk berthawaf saat itu) sampai dengan subuh, padahal badan sudah memberikan sinyal ingin beristirahat.

Itulah yang terjadi. Saya ambruk. Badan pegal, persendian linu. Kepala pening, badan menggigil-meriang. Kerokan hanya membantu sehari itu saja, karena selanjutnya angin dengan senang hati masuk badan dengan gampang. Beberapa hari kemudian hal itu diikuti limbung, mulas dan mual. Dan itu terjadi merata pada hampir semua jemaah. Padahal kami dikaruniai berhaji plus, di mana hotelnya berada di depan masjid, dan makannya terjaga.

Dan aktifitas itu belum setengah dari perjalanan haji, karena wukuf, melempar jumrah dan thawaf-sa’I haji harus dilakukan lagi. Dan saya pun masih tergolong muda usia, 40 tahun.

Lalu, bagaimanakah dengan rekan-rekan kita yang menggunakan ONH biasa? Penginapan yang bisa berjarak empat kilometer dari mesjid, pergi untuk solat dhuhur pulang sehabis isya, entah seberapa sempurna makan di sela-selanya. Hal itu belum lagi ditambah acara terpisah rombongan dan tersesat. Dan usia tua. Maka yang ada dan saya lihat ada di di semua jamaah usia tua kita adalah pasrah diri dan bersiap untuk mati. Dan jika itu terjadi – tercatat sekarang hampir 50 jamaah Indonesia meninggal – Allah memberi anugerah jenasah disolatkan jutaan jamaah. Ya, hampir tiap ba’da solat fardu pasti ada solat jenazah, baik itu satu orang, dua bahkan pernah mencapai sepuluh. Dan satu jenazah jamaah Indonesia terekam dalam fotoku.

Sahabat. Memang meninggal di tanah suci Baitullah dan disalatkan jutaan jemaah merupakan sebuah anugerah. Namun sejatinya, kembali ke tanah air dalam keadaan mabrur dan kemudian menjalankan kebaikan-kebaikan dan memberi manfaat kepada sekeliling akan jauh lebih bermakna dalam kehidupan kita. Tidak salah jika kita menginginkan mati di tanah suci, namun alangkah indah dan mulianya jika kita justru berdoa agar kita bisa kembali dan memberi kebaikan buat orang lain? Itulah makna mabrur bukan?

Karenanya, memang benar apa yang dikatakan para ulama, jangan sia-siakan waktumu. Pergilah haji di kala muda dan masih bisa menghadapi cobaan fisik. Bercita-citalah untuk kembali ke tanah air sebagai haji mabrur selagi muda sehingga akan terbentang kebaikan yang bisa kita perbuat dan akan menggunung manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain. Bukankah doa terkenal yang sering kita baca – doa sapujagat – juga menekankan kepada KEBAIKAN dunia (dan akhirat). Niatkan dengan kuat bahwa kita ingin memenuhi panggilan Allah kedua ini (panggilanNya yang pertama adalah solat), sebelum memenuhi panggilan Allah ketiga dan final – berupa mati. Buang jauh-jauh segala alasan duniawi yang melingkari kita, dan hapuskan kata-kata ‘nanti saja’, ‘entar lagi’, ‘tahun-tahun depan saja’ dari benak kita, karena bukankah itu adalah godaan syaitan yang terkutuk. Dan ingatlah bahwa ‘nanti’, ‘entar’ atau ‘tahun-tahun depan’ bisa saja tidak akan terjadi karena kita sudah keburu mati. Kuatkan niat, perbanyak ikhtiar dan serahkan padaNya kapan Dia memanggilmu.

Cag, Mekkah 7 November 2010

Terngiang sebuah perkataan seorang public speaker mentor di sebuah acara Toastmaster: ‘Did we done enough for our life? Life is short. What is your legacy? Your legacy is helping others!!! Dan saya tambahkan dengan kata-kata ‘since young of ages’. (Yang diingat orang darimu adalah kebaikan-kebaikanmu menolong orang lain – dari sejak muda).

So, let’s go Hajj now. Insya Alllah

Emang, gue pikirin?

Egoisme, keindividualisan, gue-fokus adalah salah satu sifat yang harusnya dikikis dari seorang individu sepulang dari haji karena haji mabrur akan terlihat dari bagaimana dia memberi manfaat (benefit) kepada orang lain, dan tidak melulu mendahulukan diri sendiri. Dan tanda-tanda seseorang yang egois (yang bisa menjadi tanda apakah hajinya mabrur atau tidak) harusnya sudah bisa dilihat langsung pada saat pelaksanaan ibadah haji.

Mina, jam makan siang. Antrian di kantin maktab begitu panjangnya. Hal itu bisa dimengerti karena hanya ada beberapa kantin saja untuk melayani seluruh jamaah maktab – berjumlah dua ribu limaratusan orang. Seorang muda tanpa diduga bercerita bagaimana dia mendapatkan jatah makan dengan cepat dan mudah di tengah antrian itu dengan langsung mendekati petugas pelayanan catering – yang masih tergolong anak-anak, dengan sedikit menaikan suaranya, dan dengan gaya perintah khas anak muda. Saya hanya cukup berkomentar pendek: ‘Elu gimana sih. Lu kan masih muda, maen nyalip saja’. Dan dia menjawab dengan bahasa gaulnya: ‘Ane kan laper nih boss’. Jawaban yang sedikit jelas memperlihatkan keegoisan. Saya hanya berpikir – dan harusnya pikiran itu justru muncul dari dirinya – bukankah semua yang mengantri juga sama-sama lapar? Bukankah orang lain sudah menunjukan etika yang bagus dengan mengantri? Bukankah orang tua yang telah mengantri dan berfisik lebih lemah, justru lebih membutuhkan makanan lebih dahulu? Mana esensi haji untuk membantu orang lain, utamanya membantu yang membutuhkan?

Terus terang, saya awalnya cukup kagum dengan anak muda itu. Usia muda, wajah bagus, terlihat santun dengan berpeci khas – mengaku lulusan pesantren terkenal di Bandung. Namun ekspekatsi saya terlalu tinggi. Yang kudapatkan dari dirinya adalah egoisme anak muda yang tidak memiliki empati.

Mina juga. Saat mengantri mandi. Sudah ada empat orang mengantri di depanku. Datang juga di barisan WC sebelahku cowok muda, dengan kepala seperti Cuplis wajah segar habis bertahalul, terlihat cukup intelek, ikutan mengantri. Aktivitas normal itu agak menggangguku karena dia mengantri sambil merokok. Parahnya, asap rokoknya dengan santai dihembuskan ke arahku – seorang yang anti rokok dan sangat terganggu oleh asap rokok.

Dengan bahasa tubuh saya tunjukan pada dia bahwa saya terganggu oleh asapnya, namun tetap saja dia melanjutkan aktivitas yang berpahala jika ditinggalkan itu, sampai habisnya isapan terakhir.

Yang mengejutkanku adalah tatkala giliran saya masuk ke toilet, dan di saat yang sama masih ada satu orang di depan cowok itu untuk masuk toilet di sebelahku, dengan santai dia minta dia masuk duluan ke toiletku. Entah apa alasannya, mungkin kebelet. Saya cuman geleng kepala dan langsung masuk. ‘Please man, elu paksa gue isap asap rokokmu, dan sekarang lu minta masuk toilet duluan. Egois nian kau. Gue juga lagi kebelet, tahu!’, pekik bathinku.

Madinah, acara pengajian internal. Ustadz Sang Pencerita membawakan sebuah sejarah keislaman yang syahdu. Diiringi musik yang pas sekali, kesyahduan menjalar kepada semua jamaah. Mungkin bulir-bulir air mata mereka dan saya sudah siap menetes, sewaktu tiba-tiba terdengar suara orang menangis sesegukan. Tangisan yang bisa didengar dari ujung saf. Tangisan yang sebenarnya diharapkan dilakukan dengan santun, kali itu terdengar seperti dideklarasikan. Kesyahduan ku sekonyong-konyong lenyap, dan mungkin kesyahduan jamaah lainnya pula hilang. Perhatianku berganti dari materi pengajian kepada mancari jawaban suatu tanya: tangisan siapakah itu?

Kejadian yang sama aku dapati di Arafah. Tangisan yang bahkan lebih ‘menggelegar’, karena saatnya memang amat sangat tepat, di kala kita mengakui dosa kita dan mengharapkan ampunanNya di tempat dan waktu mustajab. Alhamdulillah, mungkin karena saya sudah mafhum, atau mungkin saya terlalu sibuk dengan dosa dan doa saya, maka saya sudah tidak terlalu mempedulikan tangisan itu.

Namun tetap aku mengangkat alis. Dia yang berdoa adalah orang yang jika dilihat dari berpenampilan sangat agamis, terlihat dengan bekas sujud di dahi, janggut menjuntai, wajah serius (dan sayangnya jarang tersenyum, sayang sekali ustadz) dan celana di atas tumit. Sayangnya keagamisan itu sepertinya tidak diimbangi dengan empati terhadap sekitar, dan serasa bahwa dialah yang berhak memonopoli tangis sesenggukan dengan suara yang bisa didengar sampai ujung shaf. Bukankah ini juga sedikitnya memperlihatkan bukti keegoisan dia.

Kasus yang persis sama dengan kadar lebih besar menimpaku di Maqam Ibrahim, tempat makbul berdoa di Masjidil Haram. Saat saya dan istri mau berdoa selesai thawaf sunnah, dan siap-siap menumpahkan air mata dosa dan mengharapkan ampunan, konsentrasiku seketika itu buyar. Di belakangku, tiga orang Bangladeshi saking menghayati keutamaan dan kemakbulan tempat itu, maka mereka berdoa dan menangis berjamaah dengan bersuara, yang bahkan bisa didengar dari tiga empat shaf di depannya. Doa yang diucapkan tidak hanya dengan doa bahasa Arab, tapi juga doa dengan bahasanya sendiri. Parahnya lagi mereka melagukan doanya dengan lagu ngaji versi Bangladeshi, yang bagiku terdengar seperti lagu India. Jadilah kekhusukanku berganti. Benakku dipenuhi gambar tiga orang Bangladesh itu sedang menggelengkan kepalanya khas India, dengan satu telapak tangan di vertikal ke atas dan satu ke bawah di depan wajah dan bernyanyi ‘Kuch-kuch hota hai’. Sama sekali tak kudapat tangis di Maqam Ibrahim saat itu. Terlepaslah satu kesempatan berkomunikasi langsung dengan Ilahi gara-gara tidak mendapatkan empati dari orang lain. Astaghfirullah.

Keegoisan yang lebih massal saya jumpai di Masjid Nabawi, tepatnya di Raudhah, tempat makbul doa, di area bekas kamarnya Fatimah. Area kecil, seukuran beberapa karpet hijau ukuran 2X3 itu, menjadi rebutan para jamaah yang datang, yang mengharapkan makbulnya doa. Dalam tuntunan haji, memang kita diharapkan bisa memanfaatkan kunjungan ini untuk berdoa dan solat dua rakaat di tempat itu. Cukup berdoa dan solat dua rakaat saja. Namun apa yang ditemukan? Masya Allah, itulah pentas jelas keegoisan manusia yang ingin menguasai kemakbulan Raudhah dan ampunan Allah hanya bagi dirinya sendiri.

Coba lihat apa yang terjadi. Setelah berebutan antar jamaah, yang terkadang sedikit mencelakai orang lain, jamaah yang sudah mendapat tempat langsung solat. Ini aktivitas paling aman, karena askar-pengaman mesjid tidak akan berani mengusir orang yang sedang solat. Untuk lebih mengamankan posisi, terkadang jamaah melamakan bersujud, dengan membaca doa yang sudah panjang disusunnya. Ada kalanya juga mereka solat lebih dari yang dianjurkan, dua rakaat saja. Setelah solat, bahkan waktu lebih lama lagi dibutuhkan untuk berdoa khusuk dengan berderai air mata. Lalu, apa setelah itu? Daripada mereka beranjak keluar dan memberikan giliran kepada orang lain, mereka cenderung untuk tetap duduk diam, beritikaf atau mengaji. Mungkin di pikiran mereka ‘Gue sudah susah-susah dapat Raudhah man, sayang dong kalo cuman sebentar. Gue mau puas-puasin. Ntar dulu, orang mau enaknya gantiin posisi gue. Emang gue pikirin. Perjuangan dong! Perjuangan’.

Dan itulah yang terjadi, pertunjukan keegoisan massal jamaah yang tidak berilmu. Akan sangat-sangat sedikit kita temukan orang yang selesai solat dan berdoa dan dengan ikhlas memberikan tempatnya untuk dipakai giliran orang lain mendapatkan keafdolan berkah Raudhah yang sama. Kebanyakan jemaah selanjutnya yang akan mendapatkan giliran berdoa dan solat adalah justru setelah turun campur tangannya askar pengaman menghardik – dan bahkan menyeret – jemaah yang terus duduk itu.

Di Masjidil Haram yang suci pun, kita akan sangat-sangat gampang melihat keegoan manusia. Janganlah melihat ‘perjuangan’ mencium Hajar Aswad, yang ‘monumental’ dan perlu mengerahkan segenap usaha. Cukup lihatlah sudut rukun Yamani yang disunnahkan untuk diusap tiap putaran thawaf. Aktivitas yang disunahkan adalah mengusap saja. Mengusap adalah aktivitas yang hanya membutuhkan waktu satu detik saja sambil jalan. Namun yang terjadi adalah orang berebutan, dan yang mencengangkan adalah mereka yang paling dekat akan memanfaatkan hal itu dengan aktifitas lain yang tidak ada dalam sunnah. Menyentuh dan menggosok-gosok sudut dinding itu, mencium-ciumnya dan di satu kesempatan saya melihat satu dua orang merentangkan tangannya seperti memeluk sudut Yamani itu. Dan itu bisa berlangsung cukup lama. Dan itu menutup kesempatan orang lain mendapatkan pahala sunnah, karena jemaah sudah terbawa arus putaran thawaf. Saya sendiri pun masih beruntung bisa menyentuh rukun Yamani itu. Menyentuh dengan ujung jari, dan bukan mengusap, karena pada saat akan mengusap, diri saya malah terbawa menjauh terbawa arus. Itulah keegoisan manusia yang dilengkapi dengan kebodohan. Padahal jika semua jemaah berilmu dan tidak egois, banyak sekali jemaah mendapatkan pahala sunnah ini.

Sahabat. Sebuah perjalan haji akan menjadi mabrur jika kita melihat perubahan dari orang itu menuju kebaikan sepulang dari tanah suci. Namun, bagaimana manusia itu akan berubah jika mereka tidak merubahnya langsung sejak di tanah suci.

Mari kita berusaha mengubah egoisme itu menjadi sebuah kebaikan, empati dan memberikan manfaat kepada orang lain – mendahulukan orang lain. Mari kita ubah perkataan ‘Emang gue pikirin’ (Memangnya saya pikirkan?), menjandi ‘Emang. Gue pikirin’ (Memang benar. Saya memikirkannya).

Cag. Hari akhir tasyrik, Mina.

Anta laila majnun, anta jahil – jilid 2

Jumat. Masjidil Haram. Demi mendapatkan tempat duduk di dalam mesjid, saya berangkat jam 9.30 atau dua setengah jam sebelum waktunya. Itu pun saya hanya kebagian duduk di lantai satu, dan saya ambil posisi tepat di sudut Rukun Yamani-nya Ka’bah.

Dua jam setengah terhitung cukup panjang untuk beritikaf, membaca Qur’an, berdzikir dan shalat sunat. Dan terasa sangat panjang untuk tetap duduk bersila. Itulah saat saya mencoba meluruskan kaki, berdiri dan hanya memandang sekeliling (dan beruntung di Saudi, tidak ada yang berkomentar jika kita berdiri saja di tengah orang duduk). Itulah juga saat saya menatap persis ke depan, memperhatikan Ka’bah yang agung dan segala aktivitas di sekelilingnya. Itulah juga saat saya mendapatkan sebuah pertunjukan kejahiliahan manusia masa kini di tengah keagungan thawaf.

Thawaf adalah ritual suci nan agung, bukan untuk mengagungkan bangunan berdinding kotak, Ka’bah sebagai sebuah materi, tetapi mengagungkan Allah sebagai Tuhan yang menyuruh manusia untuk membuktikan ketundukpatuhannya terhadap penciptaNya. Namun kudapati sebuah kontradiksi pada beberapa manusia yang sebenarnya bermaksud mengagungkannya.

Terlihat di satu sisi Ka’bah, dari Hijir Ismail menuju Rukun Yamani, puluhan orang berebutan untuk menyentuh dinding Ka’bah. Sisi ini adalah sisi termudah untuk menyentuh Ka’bah, namun tidak ada satu pun riwayat yang mensunahkan jemaah menyentuh dinding Ka’bah selain mengusap rukun Yamani dan mencium Hajar Aswad. Entah apa keinginan masing-masing mereka menyentuh dinding itu. Beberapa orang cukup sadar untuk hanya menyentuhnya sesaat saja, untuk sekedar membuang kepenasaran. Beberapa yang lain melakukannya lebih lama hingga ada yang mencapai waktu menyentuhnya tiga menit seperti yang dilakukan seorang rekanku. Dia berkata bahwa menyentuh dinding Ka’bah seperti itu langsung membuat hatinya bergemuruh dan langsung berurai air mata. Saya hanya berpikir baik, mudah-mudahan itu terjadi karena dia mendapatkan hidayah kesadaran diri, dan bukan karena sentuhan dia terhadap Ka’bah sebagi sebuah materi yang dianggap keramat atau mengharapkan kekeramatannya – yang menjurus kepada bid’ah.

Namun aktifitas bid’ah lah yang kemudian tersaji selanjutnya. Saya lihat beberapa puluh orang mengangkat apa yang dipegangnya dan mengeluarkan apa yang dibawanya. Entah itu berupa sapu tangan, handuk kecil, sejadah atau bahkan kaos t-shirt cadangan. Lalu dimulailah aktifitas yang membuat keningku mengkerut. Mereka menyentuhkan bendap-benda itu ke dinding Ka’bah. Tidak hanya sebatas menyentuhkannya saja, namun lebih dari itu. Mereka menggosok-gosokan bendat-benda tersebut ke dinding Ka’bah, persis seperti mengharapkan ada banyak materi yang menempel pada benda-benda itu, entah serbuk semen dinding Ka’bah, debu yang mungkin mereka anggap suci, harumnya Ka’bah atau mungkin hanya mengharapkan bukti nyata bahwa benda-benda itu sudah pernah bersentuhan langsung dengan bangunan suci, kiblat orang Islam.

Bahkan di kesempatan yang sama, saya lihat satu orang melakukan aktifitas yang kelewatan, berani namun bodoh. Dia berdiri di sedikit undakan setinggi bahu dewasa, kemudian dia meregangkan tangannya lebar-lebar, dan dia tempelkan seluruh badannya, kakinya, tangannya, perutnya, dadanya dan wajahnya ke dinding Ka’bah. Dari jauh posisinya persis seperti spiderman menabrak tembok.

Lantas, apa yang mereka lakukan kemudian dengan benda-benda itu? Wallahu alam, tetapi kita bisa menebaknya karena sepertinya mereka mengharapkan ‘berkah’ atau ‘tuah’ dari Ka’bah. Berkah yang dalam realisasinya sering tergelincir kepada bid’ah yang berbahaya berupa ‘jimat’.

Di Hajar Aswad sendiri suasana sangatlah ramai dan kacau karena orang terlalu bersemangat dengan emosi yang meledak-ledak untuk bisa mencium batu hitam itu. Bermacam cara dilakukan, dan dari kejauhan terlihat seperti adanya baku hantam, dorong, angkat, sikut dari berbagai arah, kiri-kanan-atas-bawah. Saya jadi miris karena pada kondisi demikian, kemungkinan besar jauh korban jiwa akan sangat tinggi. Dan meninggal dalam kejadian seperti ini, menurut saya adalah sebuah kebodohan. Hakekatnya adalah ini rumah Allah, dan mencium Hajar Aswad adalah sunnah. Lalu kenapa untuk mencapai pahala amalan sunnah harus mengorbankan pahala amalan wajib? Bukankah tidak menyakiti orang lain atau tidak membunuh orang lain karena kelalaian dan kesembronoan adalah amalan wajib? Jadi, mana esensi thawaf sebagai sevuah cara mengaktualisasikan ketaatan dan ‘kemengertian’ beribadah dan menghambakan diri? Mana juga hikmah haji sebagai sarana menggalang persudaraan, menerbarkan kasih – jauh dari sakit menyakiti, dan menjadi rahmatan lil alamin.

Kita salut dengan kemauan keras ‘ghirah’ mereka dalam berusaja memperlihatkan cintanya kepada Allah dan Baitullah. Namun apapun langkah yang dilakukan haruslah memakai ilmu, sehingga ibadah kita tidak jatuh secara tidak sengaja ke dalam syirik.

Mari kita menimba ilmu, sehingga kita tidak tergolong dalam kelompok jahiliah baru.

Cag, Mekah

Anta laila majnun, anta jahil

‘Elu gak gila, tapi elu bodoh’. Begitu kali ya terjemahan bahasa gaulnya dari bahasa Arab di atas. Kalimat itu sama sekali tidak diucapkan orang Arab kepadaku. Itu hanyalah judul yang saya buat saja, agar cocok dengan isi tulisan.

Ceritanya, di hari Jum’at ini – beberapa hari sebelum wukuf, kami berkesempatan shalat dan mengikuti ceramah di mesjid cukup besar di kawasan luar daerah Masjidil Haram. Mesjid yang bagus tapi sederhana dengan karpet tebal dan pengatur udara yang dingin. Khatib Jum’at saat itu begitu mempesona, karena kita tahan hampir satu jam mendengarkannya tanpa ngantuk, meski kita hanya mengerti sedikit-sedikit apa yang dibicarakannya – karena dia berbicara bahasa Arab. Saat itulah seorang di sebelahku mendapatkan secarik kertas kecil dari seorang jamaah.

Dia kemudian menengok kepada pemberi kertas itu. Kertas itu seukuran separuh kartu nama, dan dilipat-lipat dengan tulisan Arab gundul. Dia kemudian menyimpan kertas itu di kantong bajunya, setelah dia cium dulu kertas itu.

Bubar Jum’atan, saya masih sempat menguping percakapan orang yang berwajah sederhana dan lugu itu dengan temannya. Dia sangat gembira mendapatkan secarik kertas dari Syeikh Arab itu. Dia yakin bahwa kertas itu berisi sebuah doa, yang akan makbul dan bermanfaat jika dibawa ke tanah air. Apalagi dia mendapatkannya dari seorang Syeikh, di tanah haram lagi. Bukankah doa di tanah haram berderajat 100 ribu kali? Temannya hanya mengangguk-angguk. Entah mengerti atau tidak. Entah setuju atau tidak.

Saat itu, astaghfirullah, saya bersuudzon. Naudzubillah, jika itu terjadi, mungkin dia akan bawa kertas itu ke mana dia berjalan agar selamat. Atau mungkin dia taruh kertas itu di atas pintu agar rumahnya tidak kemalingan. Atau mungkin dia akan celupkan kertas itu ke dalam segelas air untuk diminum kerabatnya yang sakit. Atau mungkin dia akan pakai kertas itu untuk apa saja yang dia inginkan keberkahan darinya. Atau …. Bukankah itu artinya dia memakai kertas itu sebagai jimat.

Naudzubillah, tsumma naudzubillah. Bukankah jika itu terjadi, hajinya menjadi tidak mabrur? Bukankah jika itu terjadi, bukannya kita menjadi lebih beriman, tapi malah kita menjadi seorang musyrik? Dan bukankah syirik itu adalah dosa terbesar kepada Allah, karena menyekutukan Dia dengan yang lain? Bukankah percaya dengan ‘jimat’ – ekuivalen dengan ‘dukun’ dan ‘orang pintar’ dalam kehidupan sehari-hari, adalah pelanggaran telak dari janji kita tiap sholat: ‘iyya ka na’budu, wa iyya ka nasta’in’?

Masya Allah, walhamdulillah, karena semua cerita di atas itu hanyalah kekhawatiran saya saja. Karena sebelum ke’jahiliah’an itu berlanjut, seorang rekan penerima kertas tersebut yang sepertinya bisa berbahasa Arab dan bisa membaca Arab gundul kemudian meminta kertas tersebut dan membacanya. Dia kemudian memekik sambil sedikit tertawa. ‘Walah-walah. Pak-e…Pak-e…. Ini kan bukan do’a. Tahu gak arti tulisan ini? Nih saya bacain ya terjemahannya. Tulisan ini berbunyi: ‘tolong kecilin AC-nya, dong!! ”.

Hatiku lega, mulutku pun ikut tertawa bersama si Bapak yang lugu dan teman-temannya. Ternyata kertas itu sebenarnya diberikan kepada dia untuk diteruskan ke shaf terdepan, karena orang Arab itu – yang karena bersorban sering disangka Syeikh oleh orang Indonesia – merasa kedinginan. Terbayang di benak, orang yang memberi kertas itu saat itu cuman geleng-geleng kepala, dan bergumam ‘Jahil-jahil-jahil. Haji!!! Jahil!!!’.

Sahabat. Itulah contoh pentingnya ilmu. Tanpa ilmu, kita bisa dengan gampang terlempar lagi kepada jaman jahiliah – dan tanpa sadar masuk ke jurang syirik. Kuatkankan imanmu, lakukan amal ibadahmu, dan tebarkanlah kebaikan. Namun iringi hal itu dengan ilmu. Karena jika iman kita tidak kuat dan tidak diiringi ilmu, akan mudah kita tergelincir dengan kemusyrikan.

Sahabat. Berilmulah. Jangan sampai ada orang yang berbicara kepada kita: Anta laila majnun, anta jahil – ‘elu gak gila, cuman elu bodoh!!!’

Cag, 13 November 2010

Tidak semua tulisan Arab adalah doa
Tidak semua tulisan Arab adalah penggalan Al Qur’an
Tidak semua orang Arab yang bersorban adalah ulama atau sheikh
Tidak semua orang Arab adalah muslim taat
Tidak semua orang Arab itu berakhlak mulia

seperti halnya

Tidak semua bule itu pintar
Tidak semua bule itu kaya
Tidak semua bule itu hebat
Tidak semua bule itu manajer

seperti halnya

Kita tidak bodoh
Tidak semua kita bisa dibodohi
Kita bukan pesuruh
Tidak semua kita bisa disuruh-suruh

Berilmulah

Dan berbanggalah sebagai orang Indonesia yang berilmu

Tatkala manusia menjadi bola

Madinah al-Munawaroh. Saat itu jam makan pagi di penginapan, dan untuk menuju restauran di lantai atas, tersedia eskalator-tangga berjalan dan lift. Eskalator lebih banyak dipilih terutama bagi mereka yang baru pulang dari mesjid.

Suasana sekitar eskalator saat itu cukup sepi. Terlihat tiga orang jamaah haji dari negeri serumpun mulai menaiki tangga itu. Didahului oleh anak muda dan kemudian dua orang tua berusia sekitar 60an. Seperti bisa ditebak, seorang yang sudah cukup berumur pasti akan menemui kesulitan untuk menaiki tangga yang berjalan.

Saat kakek yang satu naik, dia langsung diikuti kakek yang lainnya. Kakek pertama terlihat limbung. Kakek kedua berusaha memegang kakek pertama dengan maksud menahannya agar tidak jatuh. Namun sayang, mungkin karena kakinya tidak menjejak penuh sehingga kakek itu kehilangan keseimbangan karena titik gravitasinya bergeser sedikit demi sedikit ke belakang. Kakek kedua yang berada di belakangnya berusaha keras merangkulnya, namun sayang karena faktor usia, tangannya tidak mencengkeram kuat pegangan. Dan ….. jatuhlah mereka berdua. Jatuh dari hampir seperempat ketinggian. Masya Allah, inna lillahi…

Saya yang berada di eskalator seberang sedikit berteriak. Saya tidak hitung, berapa kali gulingan kedua kakek itu alami. Namun saya pikir paling tidak dua-tiga kali gulingan. Saya menghela nafas, karena jangankan bagi kakek-kakek seusia mereka berdua, bagi anak muda seusia saya pun akan terasa sangat menyakitkan. Jatuh, menggelinding seperti bola, menimpa permukaan bergerigi, keras dan sedikit tajam. Dan jatuh bebas.

Mari kita bayangkan apa yang sang kakek alami dan rasakan:
1. Badan berusaha mengembalikan titik berat ke dalam keseimbangan normal, sehingga dia menolak gravitasi, padahal momentumnya sudah harus jatuh. Yang terjadi adalah badan linu atau salah urat – dalam istilah Sunda : ‘ngajenghak’. Dan ini akan terasa sakit sekali bagi orang yang sudah berumur.
2. Bisa jadi salah otot ini berpengaruh kepada jantung.
3. Jatuh normal saja sudah menyakitkan. Bagaimana dengan jatuh pada suatu permukaan bergerigi dan keras dari besi. Jika kepala yang kena, gegar otak jadinya. Jika tulang yang kena, patah jadinya. Jika daging yang kena, memar jadinya.
4. Menyakitkan jika jatuh itu terjadi berulang, berguling-guling persis seperti bola-bola yang diputar pada pengundian hadiah. Seluruh badan akan terasa sakit dan patah-patah.
5. Dan jika jatuhnya menimpa ujung yang cukup tajam, bisa terjadi pendarahan.

Kejadian jatuh ini adalah bahaya pada eskalator. Dan ini juga yang ditemukan di Masjidil Haram pada saat pulang shalat dan suasana sangat-sangat ramai. Bahkan saya sedikit ketakutan, karena kepadatan jalan menuju eskalator turun terasa lebih penuh dibandingkan kepadatan saat thawaf. Saat itu hampir semua orang yang berada di satu eskalator berjatuhan, karena mereka tertahan di ujung landasan dan mereka yang berada di landasannya atau tidak bergerak sama sekali karena padatnya pintu keluar.

Belajar dari dua kejadian ini, beberapa langkah keamanan untuk menghindari bahaya dalam penggunaan eskalator ini adalah:
1. Cobalah berikan kebaikan pada orang lain. Jika melihat orang yang sepertinya tidak bisa atau tidak biasa atau tidak pernah memakai eskalator, pandulah dan bimbinglah dia. Tidak semua orang tinggal di kota besar dan tidak semua orang berani menggunakan tangga berjalan. Sebagian orang bahkan histeris karena kebingungan kapan tangga itu akan berhenti untuk dia naiki.
2. Persilakan orang-orang seperti itu atau orang yang sudah tua untuk berjalan duluan, sehingga jika terjadi sesuatu pada mereka, kita bisa sedikit membantu menahannya dari jatuh.
3. Tentunya itu dilakukan dengan memproteksi diri sendiri dengan berkonsentrasi dan tidak bercanda di atas eskalator, dan memegang erat pegangannya.
4. Jika kita sendiri ragu-ragu dan tidak terbiasa memakai eskalator, silakan dekati petugas keamanan dan mintalah bimbingannya.
5. Kembali lagi, jangan bercanda di eskalator. Kadang kala dengan bercanda, seseorang lupa jika perjalanan dengan eskalator sudah berakhir. Atau saking asyiknya, mereka berhenti dan diam mengobrol di ujung landasan, padahal di belakangnya pengguna eskalator lain sebentar lagi akan tiba.
6. Jika suasana amat sangat ramai dan padat, kenapa tidak kita latih kesabaran untuk menunggu sebentar sampai suasananya tidak terlalu ramai.
7. Kenapa juga tidak kita manfaatkan tangga biasa untuk menuju dua tiga lantai di atasnya? Lebih capek memang. Tapi lebih aman dan lebih sehat.

Sahabat. Mari kita mulai kebaikan bagi orang lain dan membantu siapa-siapa yang membutuhkan, termasuk dalam hal penggunaan eskalator. Sebuah kebodohanlah yang menganggap bahwa membantu orang lain adalah perbuatan ‘wasting time’ – membuang waktu, dan tidak keren. Sebuah kebaikan yang kita lakukan akan menghasilkan kebaikan lain untuk orang lain dan diri kita sendiri.

Insya Allah.

Cag, Mekah

Kutitipkan ibuku untuk kau hajikan, saudaraku

Semenjak saya akil balig dan mengerti agama, sebagai seorang muslim cita-cita adalah naik haji. Beberapa tahun belakangan, cita-cita itu begitu menguat karena mendapatkan sebuah alasan tambahan: ‘Aku harus berhaji, biar aku bisa segera menghajikan almarhum ibuku’. Aku mafhum karena seseorang bisa menghajikan orang lain jika dia sendiri sudah berhaji. Maka aku rencanakan, jika aku insya Allah bisa berhaji tahun ini, Allah memberiku rizki untuk berhaji di tahun-tahun selanjutnya untuk almarhum ibuku. Aku ingin membantu menyempurnakan Islamnya ibuku dengan badal haji.

Ternyata Allah telah membuka jalan lebih lapang. Jalan itu sebenarnya tidak diberikan padaku saat ini, karena sejatinya jalan itu sudah Dia berikan dan sudah ada dari awal, hanya saja aku tidak melihatnya karena kebodohanku. Sampai akhirnya kuasaNya menyadarkanku melalui orang-orang yang berilmu, ulama, ustadz. Jalan itu adalah ‘menghajikan tidak perlu harus dilakukan anak keturunannya, namun bisa dilakukan orang lain yang dipercaya’. Subhanallah. Kerongkonganku tercekat, mataku merah menahan tangis bahagia.

Terbayang lagi di ingatan, ibuku yang begitu hangat dan santun, namun berpulang sebelum dia memenuhi panggilan keduaNya – berhaji. Beliau bukan ustadzah, bukan guru ngaji dan bukan hajjah, namun tingkah lakunya dipenuhi kebaikan. Sebagai seorang muslim, besar sekali kemungkinan ibuku mempunyai keinginan naik haji. Namun rasanya keinginan itu tidak dia kemukakan berhubung kondisi keuangan yang rasanya akan sulit untuk memenuhi Ongkos Naik Haji.

Namun sekarang, keinginan terpendam ibuku mungkin bisa aku jembatani – jika Allah berkehendak. Terus terang hati kecilku masih gamang terhadap rencana itu. Sebagai anak yang ingin mencoba berbakti kepada orang tua yang meninggal, keinginanku adalah menghajikan ibuku langsung olehku, anak kandungnya, darah dagingnya, dan bukan oleh orang lain. Akan terasa lain rasanya jika aku menghajikan orang yang kami kasihi langsung. Akan ada pergumulan rasa – sedih, kangen, bangga dan haru rasanya jika aku sendiri yang melakukannya.

Terbayang aku berjalan menggandeng ibuku yang tertatih-tatih dengan badannya yang gemuk, dengan nafas yang cukup terengah-engah disela suara talbiah berkeliling tawaf. Atau aku dorong kursi rodanya – setelah aku bicara di telinganya ‘Mam, pake kursi roda saja – saya nanti dorong’ ketika ibuku kelelahan untuk bolak balik sai antara Safa dan Marwah. Terbayang juga aku solat di Maqam Ibrahim membaca doa yang dia ajarkan waktu kecil ‘Rabbighfirli… Waliwalidayya….’, sambil berbisik lirih ‘Mam, doa ini khusus untukmu’. Atau juga tatkala wukuf di Arafah, berdoa sambil berurai air mata ‘Ya Allah, ampunilah ibuku, sayangilah dia seperti dia menyayangiku dari mulai aku dilahirkan, dibesarkan dan dilepas ke kedewasaan. Ya Rabbi, aku tidak bisa membalas jasa budinya, hanya doa agar Kau kasihi dia di alam kuburnya. Ya Allah, aku hajikan ibuku. Inilah yang bisa aku lakukan’. Aku hanya bisa tersungkur, di sajadah itu – sajadah tua yang biasa dipakai ibuku dan sering kupakai, yang sengaja aku bawa ke tanah suci.

Lalu aku termenung dan kembali sadar. Sebuah tanya mengemuka ‘kalau kamu sendiri yang akan menghajikan, kapan bisanya kamu berangkat?’. Sebuah kesadaran yang menyakitkan. Benar. Jika saya yang menghajikan, butuh berapa tahun lagi harus menunggu? Memakai ONH biasa bisa menunggu tiga-empat tahun. ONH Plus? Setahun menunggu plus beberapa tahun menabung. Sebuah kenyataan menyesakkan yang harus saya hadapi.

Ternyata Allah memberi solusi yang adil dan membuatku lapang. Aku harusnya menangis menyadari ternyata Allah mengasihiku sehingga aku masih mempunyai kesempatan tahun ini menghajikan ibuku, dengan biaya yang terjangkau – beberapa kali lebih kecil dari ONH biasa. Tapi aku sepertinya terlalu sombong untuk menangis. Namun aku harus bertekad, Bismillah akan kutitipkan ibuku untuk dihajikan oleh saudaraku, petugas biro travel yang insya Allah bisa aku percaya.

Lalu setelah berdiskusi dengan istri dan keluarga, maka aku putuskan untuk meminta badal haji ibuku dan berkomunikasi dengan pihak biro perjalanan.

Esoknya, saya transfer uang untuk badal haji dan resmikan pendaftaran badal haji dengan mengirimkan sms: ‘Teh, saya sudah transfer ke rek pd bambu untuk badal haji alm ibuku dengan nama Tjutju Suwamah binti H Abdurahman’. Duh, mengucapkan nama ibuku saja sudah membuatku sedih, apalagi nama itu kuucapkan untuk kebaikan ibuku. Alhamdulillah, tinggal kemudian saya berangkat haji dan berkomunikasi dengan saudarku pengurus biro yang akan menghajikan.

Sorenya, aku mendapatkan sebuah sms dari kakak tertuaku:
‘Adikku tercinta , hari ini genap 13 tahun kita semua ditinggalkan Ibu tercinta untuk menghadapNya , yu kita semua dorong do’a,mudah2an Almarhumah ‘MAMAM ‘ Tjutju Suwamah dihapunten (dimaafkan) dosa2na , ditampi (diterima) Iman Islamna , dicaangkeun dilebet (diberi cahaya di dalam) kuburna , ditempatkeun ditempat anu Mulya , dilebetkeun kana (dimasukkan ke) golongan ahlì Surga. Amin’.

Ingin aku menjerit, namun aku hanya tertunduk dan membaca amin dalam hati. “Ya Allah, aku ingin menangis. Kau resmikan niatku menghajikan ibuku tepat pada saat tanggal di mana Kau limpahkan kasihMu dengan kematian bagi ibuku. Ridhoilah niat kami ini Ya Allah”.

Ada setitik air di sudut mataku yang sudah memerah. Kerongkonganku tercekat. Dan hatiku lirih menangis. Rindu. Bahagia.

Cag, 22 10 2010